Don’t Send Your Ducks to Eagle School

jangan2Bkirim2Bbebekmu2Bke2Bsekolah2Belang

Berbicara tentang motivasi hidup, sebenarnya itu sama pentingnya dengan membicarakan makanan yang akan kita makan. Itu sangat penting, karena banyak orang-orang, meski dapat menjalani hidupnya seperti halnya kebanyakan orang, namun jarang dari mereka yang benar-benar bisa menemukan jiwa buananya sendiri.

Nah, berikut ini adalah tulisan dari Zaprulkhan, Dosen Pascasarjana STAIN SAS BABEL. Judul asli tulisan ini adalah “JANGAN MOTIVASI SEEKOR BEBEK MENJADI RAJAWALI”. Tulisan ini saya dapatkan dari post seorang teman, dan ternyata belum pernah dipublikasikan. Jadi karena ini penting sekali dan saya rasa harus dibaca oleh setiap orang, maka saya beranikan diri untuk mempublikasikan artikel indah ini, melalui blog mastrigus.com.

Selamat membaca…


Jim Rohn, salah seorang maha gurunya pengembangan potensi manusia, berkisah bahwa satu waktu ia memberikan ceramah motivasi tentang kunci-kunci kesuksesan hidup yang amat inspiratif di hadapan ribuan orang. Uniknya, saat itu hanya segelintir peserta yang benar-benar termotivasi untuk mempraktikkan konsep-konsep yang ditawarkannya dan melakukan perubahan berarti dalam hidup mereka. Sebaliknya, sebagian besar peserta cuma merasakan termotivasi saat berada di aula besar ceramah tersebut.

Setelah keluar dari ruangan tersebut, mereka kembali menjalani kehidupan mereka masing-masing seperti sebelumnya. Mayoritas peserta ini tidak tergerak sedikit pun untuk mengamalkan konsep-konsep yang digulirkan oleh Jim Rohn. Sehingga tidak ada perubahan sedikit pun dalam kehidupan mereka antara sebelum dan sesudah mengikuti seminar. Yang cukup mengagetkan, ternyata Jim Rohn sudah mengalami fenomena tersebut ribuan kali. Bahkan sudah tak terhitung banyaknya ia mengalami pengalaman yang sama. Apakah pengalaman ini cuma dialami pakar pengembangan diri sekaliber Jim Rohn seorang saja? Ternyata tidak.

Pakar kepemimpinan terkenal level internasional, John C. Maxwell menyampaikan kisah yang sama. John Maxwell mengakui bahwa ia telah memotivasi orang dari berbagai latar belakang pendidikan, budaya, sosial, agama, negara dan bangsa hampir selama 40 tahun lamanya. Ia tipologi pemimpin yang menaruh penghargaan sangat tinggi kepada setiap orang yang dijumpainya. Dengan tulus, ia amat yakin bahwa setiap orang begitu penting. Selama puluhan tahun itu, ia juga begitu percaya bahwa setiap orang dapat belajar menjadi apa saja asalkan ia mampu memotivasi dan mengarahkan mereka dengan baik.

Dengan perspektif inilah, kurang lebih selama 40 tahun lamanya John Maxwell selalu memberikan seminar-seminar motivasi tentang beragam tema kepemimpinan di berbagai belahan dunia. Dalam setiap seminar yang digelarnya, selalu dihadiri oleh peserta yang berjumlah sangat banyak. Seringkali peserta yang mengikuti seminarnya berjumlah di atas ribuan orang. Dalam setahun, ia bisa memberi seminar di hadapan peserta sedikitnya hingga mencapai 250.000 orang. Meskipun John Maxwell kerapkali mengadakan seminar tentang kepemimpinan dalam berbagai aspeknya, namun tujuan intinya satu yakni agar orang-orang yang menyimak seminarnya akan berubah kehidupannya menjadi lebih baik, lebih sukses, lebih kaya, lebih berarti, dan lebih bahagia.

Tapi sebagaimana Jim Rohn, setelah mengamati dengan seksama pengalamannya selama 40 tahun berbagi inspirasi dengan orang yang sudah tak terhitung banyaknya itu, John Maxwell menemukan hal yang sama: sebagian besar orang-orang yang sudah mengikuti seminar-seminarnya hanya merasakan semangat dan termotivasi sesaat saja sewaktu menyimak materi yang disampaikan oleh John Maxwell. Namun ketika acara seminar tersebut selesai, selesai pula semangat mereka. Ketika acara seminar habis, habis pula motivasi mereka. Mayoritas orang-orang ini kembali ke rumah mereka dan menghabiskan hidup mereka seperti sebelumnya. Tidak ada yang berubah dalam kehidupan mereka. ‘They just enjoy the show but fail to implement the inspirational ideas for their lives’, Mereka hanya menikmati pertunjukannya, tapi gagal menerapkan ide-ide inspiratif dalam kehidupan nyata mereka.

Akan tetapi, fenomena ini bukan hanya dialami Jim Rohn dan John C. Maxwell semata. Hampir sebagian besar pakar kepemimpinan, pengembangan diri dan potensi manusia, maupun motivator kaliber dunia, seperti Napoleon Hill, David J. Schwartz, Tom Peter, Anthony Robbins, Brian Tracy, Zig Ziglar, Stephen Covey, Jack Canfield, Mark Hansen, Harv Eker, dan lainnya mengakui fakta yang sama. Hanya segelintir di antara pendengar mereka yang benar-benar mau menindaklanjuti wejangan-wejangan para pakar tersebut, sehingga merubah kehidupan mereka menjadi berbeda dari sebelumnya.

Yang lebih mengagetkan, secara akumulatif keseluruhan, ternyata tidak lebih dari 5 % orang-orang yang mengikut seminar-seminar yang disampaikan pakar tersebut yang betul-betul melaksanakan metode, strategi, dan konsep kesuksesan hidup secara utuh sehingga menjadikan mereka orang-orang yang sukses pula. Padahal hampir seluruh strategi, metode, konsep, cara, dan langkah-langkah praktis mengenai kesuksesan hidup yang ditawarkan oleh para pakar itu sudah teruji sepanjang waktu. Semua trik-trik tentang kesuksesan dan kebahagiaan yang ditawarkan para guru kehidupan itu sudah terbukti keampuhannya sejak berabad-abad silam hingga hari ini. Sebab yang mereka suarakan adalah prinsip-prinsip universal kehidupan yang tidak akan lapuk dan lekang oleh putaran sang waktu.

Kalau begitu pertanyaan yang menganggu benak kita adalah di mana masalahnya? Dengan kata lain, apa faktor utama yang menyebabkan kebanyakan orang yang mengikuti seminar-seminar para maestro pengembangan potensi manusia hanya termotivasi sesaat tanpa melakukan perubahan berarti dalam kehidupan nyata mereka? Jim Rohn memberi jawaban yang sangat menarik secara analogis-metaforis. Kata Jim Rohn: “Secara analogis, kebanyakan manusia itu memiliki mental bebek bukan burung rajawali. Jangan pernah mengharapkan seekor bebek bisa terbang tinggi seperti rajawali. Karena itu, aturan pertama dalam manajemen kesuksesan adalah ini: “Don’t send your ducks to eagle school”,“Jangan pernah mengirim bebek Anda ke sekolah rajawali”.

Jawaban Jim Rohn ini menyadarkan John Maxwell bahwa ada begitu banyak orang-orang bermental bebek yang tidak mungkin dirubah menjadi rajawali. Dengan pencerahan tersebut, John Maxwell memperkaya jawaban Jim Rohn dengan tiga argumentasi. Mari kita simak argumentasinya.Pertama, If you send ducks to eagle school, you will frustrate the ducks; jika kita mengirim bebek ke sekolah rajawali kita akan membuat frustrasi si bebek. Mari kita hadapi kenyataan ini. Bebek tidak seharunya menjadi rajawali, sebab tidak pula mereka ingin menjadi rajawali. Siapa mereka adalah siapa mereka seharusnya. Bebek memiliki kekuatan sendiri dan harus dihargai untuk itu. Mereka perenang yang hebat. Mereka cakap bekerja bersama dalam peragaan tim yang menakjubkan dan menempuh perjalanan panjang bersama-sama. Mintalah seekor rajawali untuk berenang atau berimigrasi ribuan mil, maka pastilah rajawali itu akan mengalami kesulitan.

Dalam konteks ini, kepemimpinan bukan hanya tentang kemampuan kita dalam memotivasi dan menginspirasi orang lain melakukan hal-hal terbaik, tapi juga menempatkan mereka sesuai dengan kapasitas kemampuan mereka. Kepemimpinan adalah tentang menempatkan orang di tempat yang tepat supaya mereka dapat sukses. Sebagai pemimpin, kita perlu mengetahui dan menghargai orang-orang kita apa adanya dan membiarkan mereka bekerja sesuai kekuatan mereka masing-masing. Tidak ada yang salah dengan bebek. Hanya jangan minta mereka untuk membumbung tinggi atau berburu dari tempat tinggi. Bukan itu yang mereka melakukan.

“Sebagai pemimpin,” tulis John Maxwell, “Anda harus selalu menantang orang Anda untuk keluar dari zona kenyamanan mereka, tetapi jangan pernah memaksa mereka untuk keluar dari zona kekuatan mereka. Jika orang keluar dari zona kekuatan mereka, segera saja mereka tidak akan berada di zona jenis apapun, baik kenyamanan, kekuatan atau keefektifan”.

Kedua, If you send ducks to eagle school, you will frustrate the eagles, jika kita mengirim bebek ke sekolah rajawali, kita akan membuat rajawali frustrasi. Ada sebuah adagium relevan dengan alasan yang kedua ini yang menyatakan: Birds with the sama feathers fly together,“Burung-burung dengan bulu yang sama akan terbang bersama-sama”.

Rajawali tidak akan mau bergaul dengan bebek. Mereka tidak mau tinggal di dalam kandang atau berenang di kolam yang sama. Potensi mereka membuat mereka tidak sabar dengan mereka yang tidak dapat membumbung tinggi. Orang yang biasa bergerak cepat dan terbang tinggi akan dengan mudah dibuat frustrasi oleh orang-orang yang pergerakannya sangat lamban. Kebersamaan dengan orang-orang seperti ini justru akan memperlambat dan menahan mereka menggapai target mereka dengan cepat dan tepat.

Ada sebuah kisah nyata menarik. Satu waktu, Christian Herter mencalonkan diri kembali untuk kedua kalinya sebagai gubernur Massachusetts di Amerika. Suatu hari sesudah kampanye pagi hari yang sangat sibuk dan melewatkan makan siang, ia tiba dalam keadaan sangat kelaparan di acarabarbecue di gereja. Ketika sang gubernur melangkah dalam barisan untuk dilayani, ia menyodorkan piringnya kepada wanita yang membagikan daging ayam goreng. Wanita itu menaruh sepotong ayam di piringnya dan berpaling ke orang berikutnya di dalam barisan.

“Maafkan saya,” Gubernur Herter berkata dengan lembut, “bolehkah saya minya satu potong ayam lagi?”

“Maaf,” jawab si wanita, “saya hanya boleh membagikan satu potong ayam untuk setiap orang”

“Tetapi, saya sangat lapar sekali” sang gubernur berkata.

“Maaf, hanya satu potong ayam untuk setiap orang” kata wanita itu.

Gubernur ini orang yang bersahaja, tetapi ia juga sangat lapar, maka ia memutuskan untuk sedikit menonjolkan diri.

“Bu, Anda tahu siapa saya?” katanya, “Saya gubernur negara bagian ini”

“Anda tahu siapa saya?” wanita itu menjawab, “Saya penanggung jawab atas daging ayam ini. Sekarang geser Tuan!”

Herter jelas merasa seperti seekor rajawali yang terhalangi untuk segera melayang tinggi di angkasa oleh seekor bebek.

Ketiga, If you send ducks to eagle school, you will frustrate yourself, jika kita mengirim bebek ke sekolah rajawali, kita akan membuat diri kita sendiri frustrasi. Pernahkah kita memotivasi, menginspirasi, memimpin, dan membimbing orang-orang yang tidak pernah bangkit dan memenuhi harapan kita? Tidak peduli sudah berapa banyak kita memotivasi mereka, memperlengkapi mereka dengan sumber daya, dan memberi berbagai kesempatan kepada mereka, tapi mereka benar-benar tidak bekerja sesuai harapan kita.

Di sini sebenarnya, persoalannya bukan pada mereka semata, tapi justru terletak pada diri kita sendiri. Seekor kucing akan mengerjakan apa yang kucing kerjakan. Seekor bebek akan mengerjakan apa yang menjadi pekerjaan bebek. Seekor rajawali akan melakukan tugasnya sebagai burung rajawali. Jika kita membawa bebek dan memintanya untuk mengerjakan pekerjaan rajawali, niscaya kita akan kecewa. Saat itu, kita akan mengalami stres.

Sebagai seorang motivator, insipirator, atau pemimpin, tugas kita adalah bagaimana membantu agar bebek menjadi bebek yang lebih baik dan rajawali menjadi burung rajawali yang lebih baik. Kita harus bersikap profesional sekaligus proporsional yakni selalu berupaya menempatkan setiap individu di tempat yang tepat dan membantu mereka mencapai potensi mereka secara maksimal. Sebab kita tidak boleh memaksa seseorang untuk tumbuh berkembang dalam bidang yang bukan bagian dari bakat alami mereka.

Berhubungan dengan kapasitas manusia untuk tumbuh berkembang, John Maxwell menguraikan dua kategori secara garis besar. Kategoripertama adalah kita dapat melakukan pilihan secara bebas dalam suatu bidang. Sehingga kita memiliki potensi pertumbuhan secara maksimal jika kita bersedia mengerjakan syarat-sayaratnya. Untuk membangun sikap yang benar dan baik dalam berinterakasi dengan orang lain adalah suatu pilihan bagi kita. Untuk mengembangkan karakter yang kuat adalah pilihan kita. Untuk menjalani kehidupan kita dengan penuh tanggung jawab adalah juga pilihan bebas bagi kita.

Dalam semua contoh bidang-bidang tersebut pada kategori pertama ini, dengan bantuan seorang pemimpin, mentor, atau coach profresional, sebenarnya setiap orang bisa mengalami pertumbuhan secara maksimal. Meskipun tetap harus diberi catatan: bahwa bagi orang kebanyakan yang bermental bebek, tetap cukup sulit mengembangkan diri mereka secara maksimal. Tatkala kita sebagai pemimpin, mentor, atau coach begitu bersemangatnya membantu mengembangkan sikap, karakter, dan tanggung jawab secara profesional dengan menunjukkan langkah-langkah praktisnya, kadangkala masih banyak di antara mereka yang tidak bersedia mempraktekkanya.

Selanjutnya kategori kedua adalah orang-orang yang memang telah memiliki suatu bakat alami atau potensi unik mereka masing-masing. Dalam kajian psikologi dan kecerdasan emosional, setiap orang sudah memiliki semacam given talent atau intrinsic talent, yaitu bakat yang sudah terberi atau bakat bawaan alami. Meminjam bahasa psikolog positif Martin Seligman dalam karya cemerlangnya Authentic Happiness, disebut dengan your signature strength, yakni talenta unik atau kekuatan khas kita masing-masing. Walaupun ada beberapa orang yang memiliki satu atau dua talenta unik bawaan, tapi mayoritas orang hanya membawa sebuah bakat alami uniknya masing-masing.

Dalam perspektif religius, sebenarnya Tuhan telah mendesain dalam diri setiap hamba-hamba-Nya suatu bakat alami yang unik dan spesifik yang menjadi panggilan hidupnya masing-masing. Panggilan hidup merupakan sesuatu yang sesuai dengan talenta dan misi autentik hidup kita. Sesuatu yang menjadi gairah terbesar dalam hidup kita. Sesuatu yang harus kita tunaikan dalam pentas kehidupan ini. Sebuah kidung sakral yang mesti kita nyanyikan dalam kehidupan pribadi kita masing-masing yang berbeda dengan orang lain.

Nah, tepat pada poin inilah, ketika seorang pemimpin, mentor, atau coach hendak memotivasi dan menginspirasi seseorang yang berada di luar bakat alami unik mereka, maka mereka tentu akan frustrasi. Ketika seorang pemimpin ingin mengembangkan seseorang untuk melakukan sesuatu secara maksimal dalam suatu aspek kehidupan yang bukan menjadi panggilan autentik hidupnya, maka ia harus menerima konsekuensinya dengan sebuah kekecewaan. Mengapa demikian? “You can’t get in what God put outside”,“Anda tidak dapat memasukkan sesuatu yang telah Tuhan tinggalkan di luar” ujar John Maxwell.

Karena itulah, sebagai seorang pemimpin, mentor, atau coachmisalnya, jika kita memerlukan rajawali-rajawali yang hebat, kita harus mencari rajawali-rajawali yang potensial. Setelah mendapatkan bibit-bibit rajawali yang potensial, baru kita memiliki kemungkinan untuk mengembangkan mereka menjadi para rajawali yang hebat. Jangan pernah sekali-kali ingin mengembangkan rajawali-rajawali yang hebat, tapi yang kita persiapkan malah benih-benih bebek yang potensial. Sebab, tidak menjadi soal seberapa hebat dan ahlinya kita melatih dan mengembangkan orang-orang seperti itu, maka yang akan kita terima hanyalah kicauan: “kwek-kwek-kwek”. So don’t send your ducks to eagle school!

iPhone Pecah Karena Jatuh, Menyebalkan!

iphone2Bpecah2Bkarena2Bjatuh2B252812529

4 bulan yang lalu, saya benar-benar menginginkan iPhone meski sebenanrya saya sudah memiliki Handphone Android. Dan keinginan tersebut tidak saya tahan lama-lama. Dengan uang seadannya, saya membeli iPhone.

Memang handphone iPhone yang saya beli bukan barang baru, jadi tidak bisa menikmati kesan unboxing. Dan bukan pula tipe iPhone terbaru.

Saya membeli iPhone 4s bekas tipe 64 GB warna hitam dari saudara saya yang kebetulan sudah tidak membutuhkan iPhone-nya lagi.

Saat itu saya membelinya dengan harga Rp. 550.000, padahal di pasaran, harganya sekitar Rp. 600.000. Diskon Rp. 50.000 itu diberikan dikarenakan tombol on/off nya sudah tidak berfungsi lagi.


Tapi tidak mengapa, saat iPhone tersebut pindah tangan, saya merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Bagaimanapun juga, menurut saya, iPhone adalah barang mewah.

Memakainya pertama kali, bukan berarti tanpa halangan. Kebiasaan menggunakan android setidaknya bisa memahami penggunaan iPhone dengan cepat. Namun tidak semudah itu.

iPhone tidak memiliki tombol back, entahlah, mengapa Steve Jobs tidak memberikan tombol tersebut. Sedangkan di android, jika kita ingin keluar dari aplikasi, cukup tekan tombol back.

Ternyata, kerusakan pada tombol on/off sedikit mengganggu kenyamanan saat menggunakan iPhone 4s. Bagaimana cara mematikan layar saat handphone sudah tidak digunakan?

Menunggu ia mati otomatis bukanlah solusinya, tapi setidaknya, ada fitur fenomenal milik iPhone yang bisa di andalkan.


Buka Pengaturan > Umum > Aksesibilitas > AssistiveTouch, kemudian aktifkan AssistiveTouch. Lalu ubah beberapa tombol yang tidak sering digunakan, dan diganti dengan tombol Lock Screen.

Sampai di sini, saya sudah menemukan solusi untuk bisa mematikan layar aktif di iPhone.

Tapi na’as, beberapa hari yang lalu, iPhone itu jatuh ke lantai yang mengakibatkan sebagian casing berbahan kaca pecah. lihatlah foto ini:


Gorilla Glass meski tahan dengan gesekan namun tidak tahan saat menghadapi gravitasi. Kaca tersebut pecah dan hanya menyisakan kesedihan untuk saya.


Tidak hanya bagian belakang, namun bagian depannya juga pecah. Meski tidak separah bagian belakang. Kasihan sekali iPhone ini.

Terjatuhnya Handphone bukanlah hal baru dan langka, setiap pemilik pasti pernah mengalami momen seperti ini.

Dan akhirnya, saya merelakan pecahnya iPhone ini, setidaknya ia menjadi lebih artistik dengan bekas pecahannya.

Arek Madrasah Aliyah (ARMADA) yang Kian Kreatif

MAM2BWatulimo

Hai para pelajar Mam Watulimo​, apak kabar kalian? Semoga kalian tetap dalam keadaan sehat dan bisa melanjutkan kreativitas. Semoga kalian tetap dalam keadaan baik sehingga dapat memuntahkan segala gagasan liar kalian ke dalam karya positif.

Surprise, ketika pertama kali melihat video yang kalian unggah di akun Youtube. Produk kreatif serius berdurasi 8 menit yang cukup menjelaskan secara detail tentang wadah karya kalian bernama aliyahmu.com. Saya jadi iri melihat perkembangan kalian, mengingat, sekitar 8 tahun yang lalu, saat saya masih menjadi siswa Aliyah, belum mampu melakukan dan membuat karya kreatif semacam ini. Kalian merupakan prototype generasi jaman now yang sukses sebagai siswa teladan, meski sebenarnya kalian tak butuh pengakuan.

Kalian pasti menyadari bahwa, sekolah yang sekarang kalian gunakan untuk menempa ilmu tersebut, merupakan sekolah kecil yang berada di antara gedung-gedung lain (4 sekolah dalam satu lokasi), lagi tak seperti sekolah-sekolah negeri favorit di kabupaten ini. Atau, kalian pasti menyadari bahwa teman setingkat kalian tidak mampu memenuhi satu kelas berukuran 8×9 meter persegi. Kalian pasti sadar tanpa paksaan jika fasilitas yang diberikan sekolah kepada kalian tidak separlente sekolah-sekolah negeri, bahkan cenderung tidak punya fasilitas. Dan kalian tetap menyadari bahwa sekolah kalian bukan sekolah yang digandrungi kebanyakan anak muda jaman now. 

Tapi meskipun MAM Watulimo adalah wujud dari sekolah yang serba kurang, kalian tetap memilihnya sebagai tempat untuk melanjutkan proses belajar. Dan saya mempercayai bahwa, pilihan kalian tidak salah dan cenderung beruntung. Tak peduli apa alasan kalian memilih Aliyah, yang jelas semenjak kalian masuk di lingkungan aliyah, semenjak itulah kalian mendapatkan dua pelajaran penting, yakni “pelajaran tentang sense of belonging dan pelajaran nerimo ing pandom“. Kenapa bisa begitu?

Senseog of belonging secara harfiah berarti rasa memiliki akan sesuatu. Secara istilah, sense of belonging biasanya diartikan sebagai rasa memiliki suatu kelompok atau organisasi dalam diri anggotanya. Ingatlah, kalian tidak memiliki beratus-ratus teman pelajar (terkadang tidak kenal satu sama lain), teman kalian berjumlah jari tangan dan kaki 3 orang, dan nyaris satu orang mengenal dari setiap wajah dan nama yang lain. Kalian mengenal teman-teman kalian dengan baik, bahkan mengenal karakter teman-teman kalian.

Hal paling penting apalagi yang bisa diambil dari sebuah pertemanan selain saling mengenal satu dengan yang lain. Bahkan kalian tahu karakter-karakter guru yang telah mendidik kalian. Selain itu kalian juga kerap diajak untuk lebih mencintai organisasi kalian (Muhammadiyah), dikenalkan setiap hari, diajak turut serta menjadi bagian darinya tanpa memandang sebelah mata organisasi lain. Kalian lah pelajar generasi wow yang banyak diimpikan oleh orang tua.

Pelajaran kedua yang bisa kalian raih adalah perasaan nerimo ing pandum, menerima segala sesuatu yang kalian terima, bukan menerima apa yang harus kalian terima (diinginkan) sebagai pelajar. Dan kalian akan menerima segala kekurangan tersebut setiap hari.

Tahukah kalian, para OSIS (sekarang IPM) jaman dahulu, tak pernah sekalipun menghiba anggaran sekolah untuk mengisi kas OSIS, untuk digunakan membuat kegiatan-kegiatan. Tidak, kami tidak meminta uang dari sekolah, kami mencari uang tersebut dengan membuat produk kreatif yang bisa dijual.

Saat saya dipercaya menjadi ketua OSIS dahulu, saya bisa merasakan keikhlasan teman-teman osis dan siswa lainnya untuk berdikari secara mandiri. Meski tidak sedikit jeweran dan makian yang diberikan para pendidik karena kendablegkan dan kenakalan bocah pelajar, kami tetap ingin menjadi pribadi-pribadi mandiri. Saat itu para siswa tahu bahwa anggaran MAM Watulimo tidak sebesar anggaran sekolah besar lainnya. Kami kekurangan, tapi kami tidak mengemis untuk memenuhi persoalan kami sendiri.

Dan kini, dari tayangan video pendek tersebut, saya menangkap pesan penting khas siswa ARMADA (sebutan arek madrasah aliyah), yaitu: “apa lagi yang bisa menghalangi kami (siswa MAM Watulimo) untuk membuat produk kreativitas, selama niat tulus kami sudah disepakati, tiada ada rotan, akar pun jadi”). Saya tahu dengan persis, tidak ada mata pelajaran multimedia yang bisa kalian manfaatkan untuk mempelajari “cara membuat video”, tapi kalian bisa membuatnya.

AliyahMu.com, adalah sarana kalian untuk mengaktualisasikan diri, kalianlah yang telah mengembangkan media tersebut, dan kalian lah yang setiap saat mengisi artikel-artikel bagus dengan telaten. Bukan saya dan pendidik kalian yang membuat seperti ini, tapi kalian.

Saya sangat yakin, ke depannya nanti, kalian akan menjadi pioner literasi di dalam lingkungan sekolah, bahkan akan menginspirasi sekolah-sekolah lain untuk membuat media mereka. Karena kalianlah pembaharu, kalian generasi now yang wow. Dan sejatinya, siswa-siswa model kalianlah yang banyak diharapkan oleh dunia pendidikan negeri ini.

Tetaplah kreatif adik-adik ku MAM Watulimo. Kalian kebanggaan kami.

Cerita Tentang Vespa, Motor Paling Peka Jaman

kenangan motor vespa

Mastrigus.com – otomotif. Tiba-tiba saya keinget sama kuda besi tua yang dulu pernah mewarnai kehidupan di kota Samarinda. Iya bro saya dulu penikmat vespa dan sempat menggilainya. Meskipun sekarang juga masih sering ngebet jika melihat para raider vespa bergerombol menuju ke suatu tempat.

Awalnya sih nggak sengaja beli, pas main di tempat kawan tiba-tiba dia nyelonong berkata pengen melelang vespanya. Tawarannya nggak mahal waktu itu, cuma 700 ribu. Body masih oke karena baru didempul. Mesin juga kece, katanya yang punya kagak sering macet. Karena sedang pegang uang akhirnya saya beli juga.

Langsung deh si vespa buat jalan-jalan, memutari perumahan loajanan indah sampek ke stadion palaran, stadion yang dulu pernah dipakai PON (pekan olahraga nasional. Memang mengendarai vespa itu asyik. Kesan santai dan elegant jelas sekali terasa disetiap geberan. Nggak seperti saat melihat para bikers vespa yang serba rombengan, tapi saya merasakan kesan santai. Keren dah.

Nggak puas dengan beberapa kendala, saya bawa ke bengkel saat itu juga, beruntung di sana ada bengkel yang khusus modifikasi vespa. Jadi tenang. Nah vespa ku dulu masih pakai platina, jadi nyaman dan tidaknya saat dihidupkan tergantung pada setelan platinanya. Si tukang bengkel membemahi hingga sore hari. Nah, vespanya jadi enak, sekali sentuh engkolnya bisa langsung hidup. Suaranya khas banget lah, namanya juga Vespa.

Setelah itu Vespa saya cuci sampai bersih dan mengganti oli sampingnya dengan yang mahalan dikit, jadinya asap yang keluar berbau wangi, haha. Meski harga Vespa yang saya beli murah namun untuk ukuran style harus tetap kece dong. Tidak lupa bensin saya isi penuh soalnya malamnya nanti saya sudah janjian dengan teman untuk pergi ke tempat karaoke.

Sehabis shalat Isya’ saya dan beberapa kawan pergi ke tempat ya sudah direncanakan. Saya ajak Vespa baru untuk jalan-jalan, cuman naas, malam itu di pertigaan jalan sebelum jembatan Mahakam Samarinda, motor Vespa saya menabrak motor Vixion sampai terjatuh. Bukan salah Saya juga sih, pengendara motor Vixion tersebut nyelonong menerjang lampu merah.

Yang saya herankan motor Vespa saya sama sekali tidak terkena kerusakan. Padahal lawannya motor berat. Eh masih beratan Vespa kali ya, kan Bodynya full besi. Sipenunggang Vixion awalnya marah-marah tapi karena dia salah, persoalan tidak menjadi panjang. toh motor saya tidak apa-apa. Hahahaha. Rencana ke tempat karaoke lanjut dah.

Punya motor Vespa itu asyik, meski melakukan perjalan jauh sendirian tapi tidak takut. Komunitas vespa banyak, dan rata-rata mempunyai solidaritas tinggi. Kalau masalah vespa macet, wuuih udah nggak kebayang banyaknya. Pernah suatu kali vespa saya macet gegara platinanya bermasalah. Kusandarkan saja vespa di tepi jalan sambil otak-atik sendiri. Dan alhamdulillah ada seorang pengendara vespa lewat. Dianya langsung turun dan menyalami saya, menanyakan kenapa gerangan motornya. Nah, pengendara vespa ini tanpa ba bi bu langsung membantu membenahi sampai bisa. Baik banget kan, padahal saya tidak kenal.

Orang-orang vespa tetap rukun, mau vespa model gimbal, atau vespa versi nyentrik semuanya tetap memiliki solidaritas tinggi. Merasa punya rasa senasib dan sepenanggungan. Pokoknya vespa mah kereeeen.

Meski usang dan gimbal, istri saya juga senang sekali waktu ku bonceng jalan-jalan. Katanya vespa ini romantis, penuh kenangan (entah kenangan bersama siapa ya).

Nah ini ceritaku tentang vespa bro, kalau kebetulan kamu menemukan artikel ini dan kamu adalah penunggang vespa, salam kenal ya. Semoga vespa selalu ada. Oh ya gan, itu yang di atas foto gue sama istri saat di stadion palaran samarinda.

6 Tahun Bersama Honda Vario Techno Karbu

images2B252812529 01

Semenjak menjalani kehidupan di dunia ini, baru pertama kalinya saya bisa membeli sepeda motor, dan pilihan pertama jatuh pada honda vario, motor bebek berkapasitas 110 cc dan masih memakai karburator.

Sepeda motor garapan honda ini memang tidak stenar vario techno 125 cc, dan juga tidak secanggih dia. Jila vario techno sudah memakai sistem injeksi sebagai dapur pacunya, vario techno 110 cc masih tetap mempertahankan karburator sebagai dapur pacunya. Alhasil, banyak pemakai vario karbu mengatakan jika motor ini boros.

Jelas sekali pendapat ini saya benarkan, karena saya sendiri juga memakainya selama 6 tahun. Nyaris tak tergantikan meski varian motor dengan type dan merk sudah banyak beredar. Namun belum ada yang bisa mengubah keinginan saya untuk membelinya.

6 tahun melakukan perjalan denganya, banyak sekali kisah yang bisa diceritakan. Mulai dari kisah sparepart yang tidak tangguh-tangguh amat, hingga kisah kekecewaan karena tenaganya tidak segarang ninja 250. 😀

Tercatat selama ini sudah 1 kali mengganti vanble, sekali mengganti skok belakang, 3 kali mengganti ban depan maupun belakang, 4 kali mengganti aki dan belum pernah turun mesin.

Memang secara pemakaian motor ini tidak terlalu saya manja-manja. Naik gunung turun gunug juga melewati lembah-lembah, lancar di jalan aspal atau jalan makadam maupun jalan tanah. Tidak pernah nganggur barang satu hari. So dengan seringnya pemakaian berbanding lurus dengan kerusakan sparepart yang terlalu cepat.

Motor ini saya beli sebelum menikah, dan sekarang sudah memiliki 2 orang anak tapi motor vario karbu belum menunjukkan gejala turun mesin, yah mudah-mudahan awet lah. Soalnya belum ada fulus buat beli motor baru.

Servicenya pun tidak rajin tiap bulan, tapi kalau pas lagi pengen aja baru saya bawa ke bengkel. Ganti oli mesin dan gardan seingatnya saja, kalau mesin terasa berat baru diganti. Pokoknya untuk persoalan perawatan tidak ada yang spesial.

Di tempat saya tinggal jarang-jarang ada yang punya type motor ini, mungkin karena tidak terlalu banyak diproduksi, atau mungkin karena pertimbangan lain semisal nanggung beli bario techno karbu karena tidak lama berselang setelah motor ini dilaunching, honda sudah mengeluarkan type baru yang lebih baik.

Setiap orang punya kehendak sendiri kepada motornya, misal setelan mesinnya. Seingatku sudah beberpa kali motor ini diservice banyak bengkel, termasuk dealer honda, tapi hanya ada 1 bengkel yang bisa menyetel mesin motor ini sehingga nyaman sekali dipakai. Jadinya untuk perawatan tidak berkala, saya percayakan pada orang tadi. Oh ya, pernah saya bawa ke dealer honda cuma stelannya jelek sekali.

Honda vario techno 110 karbu ini boleh dibilang lawas dan nggak kekinian, tapi disisi lain ada banyak kemudahan yang bisa diunggulkan seperti:

1. Mudah servicenya, karena hampir semua bengkel motor bisa melakukannya. Itu karena masih memakai karburator.

2. Kehabisan bensin tidak masalah, tinggal diisi lagi langsung bisa dihidupkan. Sudah puluhan kali saya kehabisan bensin ditengah jalan. Mungkin sudah kebiasan ya jadinya malas mau ngisi. Tapi karena karburator, kejadian ini tidak menjadi persoalan rumit. Tidak seperti injeksi yang bakal berabe kalau sampai kehabisan bahan bakar.

3. Sparepartnya mudah didapat. Ya jelas sekali, karena jenis sparepartnya hampir sama dengan jenis motor vario lain.

4. Tidak mudah panas, karena sudah ada radiator yang siap mendiginkan mesin. Meski radiotornya kecil, tapi selama ini belum pernah menemui kendala.

Pokoknya mah saya sayang banget sama vario techno karbu, meski banyak kekurangan tapi banyak hokinya. Gimana menurutmu?

Tips Supaya Tidak Grogi Saat Ijab Kabul

Tips Supaya Tidak Grogi Saat Ijab Kabul

Sudah menikah belum mblo? Kalau belum cepetan nikah sana, supaya burungmu tidak hanya berfungsi sebagai alat kencing. Lagian buat apa nunggu mapan dulu, nikah itu sunnah yang baik. Malah menikah terbukti memapankan kehidupan lu-lu pade.

Kemarin ceritanya saya lagi nemenim teman menikah, sumpah demen banget melihat temen-temen yang dapat melewati ijab kabul dengan lancar jaya. Dengan begitu berarti saya punya teman untuk curhat menghadapi kegarangan bini, hahaha. Eh bukan begitu maksudnya, tapi melihat teman-teman yang kita miliki menikah, bisa dijadikan motivasi bagi kita sendiri. Baik yang sudah menikah maupun yang belum menikah.

Misalnya nih, elu belum menikah dan dimintai tolong temanmu untuk menemaninya ijab kabul. Langsung tuh hati lo kejet-kejet ngarep supaya ada yang mau nikah saya lo. Iya nggak? Ngaku aja.

Atau bagi yang sudah menikah seperti saya ini, menyaksikan temen yang menikah, serasa mengenang masa lalu. Teringat saat-saat betapa groginya saat ijab kabul dan merasakan sensasi plong sesaat setelah ijab kabul selesai. Selanjutnya, yang terpikirkan di dalam hati, gimana caranya melakukan belah duren. Hahahaha, nak dek nak dek.

Ok Mblo, buat lo yang nggak bisa membayangkan bagaimana menikah itu, saya kasih tahu ya. Meskipun sudah puluhan kali seorang lelaki muslim menikah, tapi yang namanya nerves saat ijab kabul musti selalu ada. Makanya tidak ada obat mujarab untuk menghilangkan nerves saat ijab kabul selain ijab kabul itu sendiri.

Tapi, meski tidak bisa menghilangkan rasa nerves, kita bisa sedikit menghilangkan rasa grogi. Apalagi bagi seseorang yang nikahnya masihs satu kali. Nah, gimana tipsnya:

  1. berlatihlah menghafal lafads qabul dengan benar. Pakai bahasa yang kamu mengerti. Kalau kamu tidak bisa bahasa jerman, kagak perlu pakai bahasa itu, lagian pak naibnya banyak yang belum bisa. Nah, hafal selama sehari tiga kali sebelum makan dan tidur. Kira-kira lafasnya seperti ini “saya terima nikah dan kawinnya bla bla bla binti bapak bla bla bla dengan maskawin bla bla bla saya bayar tunai“. Tunai lo ya, kagak usah kontan. Redaksi bisa berubah tergantung pak naibnya.
  2. Wudhu dulu sebelum ijaban. Ini saya nggak tahu hukumnya, cuman karena ini adalah kejadian sakral sepanjang hidup, ada baiknya kamu bersuci dulu supaya jiwa-jiwamu tenang. Nggak ada salahnya bersuci sebelum ijaban.
  3. Yakinkan pada dirimu bahwa kamu laki-laki yang pantas buat dia. Kalau merayu calon istrimu sampai berbusa-busa saja bisa, kalau ngucapin kalimat kabul aja masak ngak bisa. Kalau kamu yakin pada dirimu bahwa kamu adalah lekaki yang paling cocok buat calon istrimu, pasti apapun akan kamu lakukan, termasuk ngucapin kalimat sakral ini. Nah, kalau kamu sudah merasa yakin, pasti kamu tidak grogi lagi.
  4. Ajak orang dekatmu untuk menemani ijab kabul. Jangan lupa, suporter sangat menentukan kepedean pemain. Oleh karena itu wajibek bagi kamu untuk membawa orang-orang dekatmu turut serta dalam pernikahanmu. Minimal saat kamu sedang grogi menghadapi calon mertua dan pak naib, ada orang yang bisa membuatmu tenang.
  5. Jangan lupa bawa maskawinya. Kalau sampai kamu lupa bawa maskawin, ini bisa masuk guines book kategori ceroboh sepanjang hidupmu. Saya tidak bisa membayangkan betapa sibuknya hatimu kalau sampai meninggalkan maskawin di rumah. Kecuali kamu sudah hafal juzz 30 dan kamu jadikan sebagai maskawin. Pokoknya jangan sampai lupa guys.

Nah itu saja mungkin sudah cukup ya untuk membuat mu tenang dan meringankan kegrogian saat menikah. Terimakasih sudah tersesat di mastrigus.com