Tenaga kesehatan adalah orang-orang yang bekerja di bidang kesehatan baik di rumah sakit, puskesmas, apotik, lembaga farmasi, klinik atau lembaga kesehatan lain. Tenaga kesehatan yang profesional harus melewati serangkaian pendidikan formal sampai mendapat lulus dan mendapat sertifikasi negara.Di Indonesia sendiri jumlah tenaga kesehatan sangat minim. Fenomena satu dokter bisa bekerja di dua-tiga rumah sakit sangatlah umum terjadi. Karena setiap rumah sakit tidak selalu punya dokter spesialis sendiri. Begitu juga tenaga medis lain yang jumlahnya tidak seberapa. Padahal melayani orang sakit adalah bentuk pengabdian sosial yang bisa dilakukan sambil bekerja. Selain tentu untuk mengabdi pada negara yang level pelayanan kesehatannya masih kurang ini. Untuk kalian yang sudah kelas 12 SMA, bisa pikirkan lagi untuk bekerja sebagai tenaga medis. Tenaga medis itu juga tidak cuma dokter, gais. Perawat, bidan, apoteker.
Lantaran pekerjaan yang tersedia di masyarakat kita sangatlah banyak, maka jurusan perkuliahan juga melimpah banyaknya. Kalian pasti setidaknya memiliki dua atau tiga jurusan yang ingin dimasuki. Jurusan-jurusan yang dipilih tersebut bisa saja karena berhubungan dengan minat kalian, bakat, peluang kerja di masyarakat atau alasan personal lain.
Misalnya kalau kelak kalian ingin menjadi tenaga medis berarti jurusan kuliah yang harus kalian bidik adalah kuliah jurusan kesehatan. Kalau ingin jadi guru, ya ngambil jurusan kuliah jurusan pendidikan.
Sebetulnya jurusan tidak harus selaras dengan bakat dan kemampuan karena dua hal tersebut bisa dimunculkan ketika sudah punya niat yang kuat untuk belajar.
Seringkali mahasiswa yang merasa tidak mampu memenuhi tujuan pembelajaran di kampus disebabkan karena malas dan tidak cocok dengan lingkungannya. Kalau sudah malas bagaimana mau mengembangkan dirinya.
Ada nasehat yang mimin ingat sewaktu kuliah bahwa kalian boleh jadi apapun, asal jangan jadi pemalas. Tetapi malas kuliah tidak selalu disebabkan hal negatif seperti kebanyakan main atau nongkrong gais. Ada yang malas karena merasa salah jurusan, sibuk berorganisasi atau fokus bekerja sambilan.
Ketika memasuki dunia kampus, pikiran mahasiswa jadi lebih bercabang sehingga keputusan-keputusan yang bisa diambil untuk kepuasan hidupnya jadi lebih beragam. Kalian harus menerima hal tersebut sebagai bagian kedewasaan.
Mimin berpesan jangan saling mencela pilihan masing-masing dan merasa pilihannya yang paling ideal. Jalan kesuksesan setiap orang berbeda. Daripada mencela lebih baik fokus untuk memberdayakan diri masing-masing dan berkompetisi secara sehat.
Selanjutnya adalah bagaimana memilih jurusan yang ideal dengan mendefinisikan pekerjaan apa yang akan digeluti nanti.
Loh min kuliah aja belum kok sudah mikirin pekerjaan?
Iya dong, memangnya kalian kuliah cuma biar nggak secepatnya mikirin kerjaan? Woh, itu pikiran yang zonk. Kecuali kalau kalian kuliah cuma buat menghamburkan uang orang tua dan cuma untuk menggapai gengsi ya itu di luar urusan mimin ya gais.
Jadi membidik pekerjaan idaman juga sudah harus dimulai ketika SMA. Kalau kalian ingin jadi guru, ya segera cari tahu bagaimana pekerjaan yang dilakukan guru di kelas maupun kantor, gaji mereka, apa yang mereka pelajari di kampus. Kalau kalian ingin jadi tenaga medis, cari tahu jenis pekerjaan, gaji, cerita dari yang berprofesi serupa.
Setidaknya dari situ kalian mendapat gambaran real tentang pekerjaan yang ingin kalian lakukan. Cita-cita bukan cuma angan-angan di kepala yang dipakai cuma buat pajangan album sekolah, cita-cita itu diperjuangkan di kenyataan.
Apalagi jika cita-cita kalian berhubungan langsung dengan pengabdian masyarakat. Wah, ini harus diseriusi. Bekerja untuk masyarakat adalah sebaik-baiknya penghargaan untuk diri sendiri. Salah satu contoh pekerjaan yang berhubungan langsung dengan pengabdian masyarakat adalah tenaga kesehatan.


