Sepulang sekolah, anak saya, Gawang, bilang badannya meriang. Awalnya ia hanya mengeluh letih, tetapi menjelang sore suhu tubuhnya mulai merangkak naik. Rumah mendadak riuh kecil. Saya dan ibunya segera bergegas mencarikannya obat penurun panas.
Sambil menyiapkan membersihkan kamar, istri saya berbisik, “Yah, nanti tolong hibur Gawang ya. Dia tidak lolos seleksi kelas peminatan di sekolahnya. Mungkin dia tidak enak hati, takut kita kecewa.”
Saya mengangguk, tetapi saya tidak buru-buru masuk ke kamarnya untuk mengobral kata-kata penyemangat. Bukan karena saya tidak peduli, melainkan karena saya tahu Gawang anak lelaki yang tangguh. Dan lebih dari itu, ada satu hal penting yang barangkali perlu ia pelajari sejak dini: hidup ini dipenuhi keputusan orang-orang lain yang berada di luar kendali kita.
Beberapa hari sebelum seleksi itu diumumkan, Gawang memang sempat dilanda bimbang. Sekolahnya membuka kelas peminatan, dan ia harus memilih antara kelas seni atau kelas teknologi.
Bagi saya dan ibunya, memilih salah satu dari keduanya sama sekali bukan perkara rumit. Sebab, kami tahu ia mencintai keduanya.
Sejak masih di taman kanak-kanak, tanda-tanda kecintaannya pada seni sudah terlihat terang. Mula-mula ia kepincut jaranan. Hari-harinya diisi rengekan meminta dibelikan barongan dan kuda kepang.
Lalu, begitu menginjak bangku sekolah dasar, perhatiannya bergeser ke wayang kulit. Kegandrungannya pada wayang bahkan sempat membuat saya pontang-panting mendatangi rumah Dalang Brian di Tugu, demi memohon agar salah satu wayang Wisanggeni koleksinya boleh saya tebus pulang.
“Anak saya sedang sakit dan terus-terusan meracau minta wayang ini, Mas Dalang,” kata saya waktu itu, mengiba-iba.
Melihat kesungguhan saya, Dalang Brian akhirnya mengalah. Wayang Wisanggeni itu ia relakan berpindah tangan dengan harga perkawanan. Dan benar saja, begitu wayang itu sampai di pelukannya, sakit Gawang berangsur reda.
Kini, setelah ia duduk di bangku SMP, mediumnya berganti lagi. Ia mulai akrab dengan kanvas dan cat minyak.
Ibunya bercerita, beberapa waktu lalu Gawang mengumpulkan uang jajannya untuk membeli peralatan melukis. Karena tabungannya masih kurang separuh, ia minta ditomboki. Tetapi setidaknya, ia punya kemauan untuk menabung demi sesuatu yang ia inginkan.
Goresan kuasnya di atas kanvas, menurut ukuran saya yang awam, cukup memikat. Beberapa kawan saya yang memang pelukis tulen pun mengatakan hal serupa ketika melihat karyanya.
Bahkan, ada cerita yang membuat saya tertawa geli sendiri. Saya punya kenalan pelukis yang mendirikan rumah galeri di Sumbergedong, tempat ia membuka ruang bagi siapa saja yang ingin belajar mencoreng kanvas. Tanpa pernah saya beri tahu atau saya antar, tiba-tiba kenalan saya itu mengirim kabar:
“Kemarin ada anak datang kemari, bawa alat sendiri, minta diajari melukis. Waktu ditanya namanya siapa, dia mengaku anaknya Mas Trigus.”
Saya terkekeh mendengar laporan itu. Anak ini tidak menunggu disuruh. Ia mencari jalannya sendiri; ia menemukan gurunya sendiri.
Lalu, bagaimana mungkin anak yang api seninya menyala begitu terang dari dalam dirinya sendiri—anak yang memilih Wisanggeni dan mendatangi galeri atas kehendak kepalanya sendiri—tiba-tiba bisa terserang demam hanya karena namanya tidak tercantum di secarik kertas pengumuman sekolah?
Di situlah letak persoalan kita sebagai manusia.
Sejak kecil, kita dididik dalam sistem yang membuat kita percaya bahwa apa pun yang ada di dalam diri kita baru dianggap sah apabila sudah diberi stempel oleh orang lain.
Kita menuntut diri kita lulus seleksi panitia, mendapat piagam penghargaan, mengantongi sertifikat kelayakan, atau setidaknya menerima tepuk tangan dari penonton. Tanpa stempel-stempel formal itu, kita merasa belum menjadi apa-apa. Kita merasa gagal, lalu jatuh sakit karena cemas orang-orang di sekitar kita akan kecewa.
Padahal, pengakuan dari luar adalah perkara paling rapuh di dunia.
Panitia seleksi di sekolah bisa saja memiliki kuota yang terbatas. Mereka mungkin punya kriteria penilaian yang kaku, atau selera mereka hari itu kebetulan tidak cocok dengan apa yang kita sajikan. Jika nilai diri kita gantungkan pada keputusan segelintir orang di ruang seleksi, kita sedang menyerahkan kemerdekaan hidup kita ke tangan orang lain.
Pohon mangga di pekarangan tidak pernah meminta pengakuan dari rumput liar di bawahnya sebelum ia memutuskan untuk berbunga. Ia berbunga begitu saja karena getah kehidupan di dalam batangnya memang mengalir ke arah sana.
Begitu pula halnya dengan melukis, menulis, atau menekuni apa saja.
Gawang membeli kanvas dan mencampurkan warna bukan demi menyenangkan panitia sekolah. Ia melukis karena ada gambar yang mendesak-desak di dalam kepalanya dan harus ia tumpahkan ke atas kain putih. Kebutuhan untuk menumpahkan gambar itu adalah urusannya sendiri dengan kejujuran hatinya. Sekolah boleh tidak meloloskannya ke kelas peminatan, tetapi sekolah tidak akan pernah punya kuasa untuk merampas kemampuan jemarinya memegang kuas.
Ksatria Wisanggeni yang pernah ia tangisi waktu SD dulu lahir dari kawah Candradimuka. Dalam pakeliran, ia adalah ksatria yang tidak pernah berbahasa krama inggil, bahkan kepada para dewa sekalipun. Ia tidak pernah memohon restu di Jonggring Saloka untuk membuktikan kesaktiannya. Wisanggeni tahu siapa dirinya, dengan atau tanpa persetujuan para dewa.
Nanti, ketika panas badannya sudah turun dan ia sudah bisa duduk di teras, saya tidak akan menghiburnya dengan kalimat-kalimat penghibur yang cengeng.
Saya hanya akan menepuk pundaknya dan mengingatkannya:
“Le, kelas peminatan itu cuma pintu buatan orang lain. Pintu itu boleh saja tertutup hari ini, tapi pekaranganmu tetap luas. Kalau kamu memang ingin melukis, melukislah. Catmu masih ada, kanvasmu masih bersih, dan galeri di Sumbergedong itu tidak pernah menanyakan apakah kamu lolos seleksi sekolah atau tidak.”
Di dunia ini, mereka yang berjalan paling jauh bukanlah mereka yang mengoleksi stempel paling banyak, melainkan mereka yang tidak pernah memadamkan apinya sendiri meski berkali-kali ditolak oleh pintu-pintu yang sempit.



