KITA semua pernah mengalami hari-hari ketika kepala kita terasa seperti laci meja kerja yang sudah bertahun-tahun tidak pernah dibersihkan.
Di dalam laci itu, segala macam benda bertumpuk tak beraturan, kuitansi lama yang tintanya sudah memudar, kabel pengisi daya yang saling melilit, gunting kuku, kunci cadangan yang kita lupa untuk pintu mana, potongan kertas catatan belanja, hingga debu halus di sudut-sudutnya. Setiap kali Anda membuka laci itu, Anda hanya merasa sesak dan segera menutupnya kembali.
Pikiran kita sering kali persis seperti laci itu.
Ia dijejali oleh ribuan hal yang datang bersamaan, ingatan tentang salah ucap kepada seseorang kemarin sore, kecemasan tentang tagihan minggu depan yang hari ini belum dapat kejelasan dari mana datangya uang, ide pekerjaan yang belum sempat dicatat, rasa bersalah karena menunda sesuatu, dan komentar orang di media sosial yang sebetulnya sama sekali bukan urusan kita.
Semua itu berputar-putar di dalam ruang sempit tempurung kepala, bertubrukan satu sama lain, dan menciptakan dengung yang melelahkan.
Ketika kepala sedang dalam keadaan begitu, banyak orang mengira mereka sedang berpikir.
Padahal mereka tidak sedang berpikir. Mereka hanya sedang disandera oleh keriuhan pikiran sadar yang cerewet dan mudah panik. Pikiran yang kusut tidak pernah bisa menyelesaikan masalahnya sendiri di dalam kepala, karena setiap kali Anda mencoba memikirkannya, Anda hanya menarik simpul benang kusut itu menjadi semakin kencang.
Lalu apa yang bisa kita lakukan?
Sederhana saja: pindahkan keriuhan itu keluar dari kepala Anda.
Dan cara paling murah sekaligus paling ampuh untuk memindahkannya adalah dengan mengambil selembar kertas dan mulai menyusun kata-kata. Dan sebenarnya gadget anda bisa digunakan untuk ini.
Menulis pada dasarnya adalah tindakan merapikan pekarangan.
Saat Anda membiarkan pikiran tetap berada di dalam kepala, ia tidak memiliki bentuk fisik. Ia liar, kabur, dan membingungkan. Tetapi saat Anda menuliskannya di atas kertas atau di layar laptop, keadaannya berubah total:
- Pikiran dipaksa berbaris. Anda tidak bisa menuliskan sepuluh kalimat secara bersamaan. Huruf harus mengikuti huruf; kata harus mendahului kata berikutnya. Struktur kalimat secara otomatis memaksa kekacauan di kepala Anda untuk antre dan mengambil wujud yang tertib.
- Terjadi jarak antara Anda dan masalah Anda. Begitu kekusutan itu tertulis menjadi kalimat, kalimat itu berada di luar diri Anda. Anda bukan lagi kekusutan itu. Anda kini menjadi seorang pengamat yang sedang duduk tenang menatap sebuah kalimat di atas kertas.
Ketika Anda melihatnya dari luar, monster menakutkan yang tadi mengamuk di kepala Anda sering kali menyusut ukurannya. Ternyata ia hanya seekor kucing kecil yang sedang lapar, atau sekadar ketakutan tak beralasan yang selama ini dibesar-besarkan oleh imajinasi Anda sendiri.
Masalahnya, kebanyakan orang gagal menggunakan menulis sebagai alat merapikan pikiran karena satu kesalahan, mereka menulis sambil mengedit.
Mereka baru menulis satu kalimat, lalu pikiran sadarnya yang rewel langsung menyergap: “Kalimat ini jelek sekali,” “Ini terdengar bodoh,” atau “Apakah orang lain akan menertawakanku jika membaca ini?”
Maka, tutup mulut si pengritik itu sebentar.
Jika kepala Anda sedang kusut, jangan menulis untuk memikat orang lain. Menulislah untuk menolong diri sendiri. Pasang timer di ponsel Anda selama 15 menit. Tuliskan apa saja secepat-cepatnya tanpa berhenti, tanpa memedulikan tanda baca, dan tanpa menghapus kata yang salah ketik.
Keluarkan semua sampah dari laci kepala Anda ke atas meja. Biarkan ia tumpah apa adanya.
Setelah 15 menit dan waktu habis, Anda akan merasakan kelegaan yang ganjil. Ruang di dalam kepala Anda yang tadi penuh sesak tiba-tiba menjadi lapang dan hening. Anda bisa bernapas lagi.
Dan dari tumpukan kata yang semrawut di hadapan Anda itu, perlahan-lahan Anda bisa mulai memilih: mana yang layak disimpan dan dirapikan menjadi tulisan yang jernih, dan mana yang cukup dibuang ke keranjang sampah.
Pikiran yang jernih bukan hadiah yang jatuh tiba-tiba dari langit. Ia adalah hasil dari kemauan kita untuk duduk sebentar, memegang pena, dan dengan sabar mengurai simpul benang kusut itu—satu per satu.
Selamat menulis untuk diri sendiri hari ini.



