Merawat Alam, Menjemput Wisatawan: Upaya Desa Wisata Duren Sari Meraup Ekonomi
Kisah Desa Wisata Duren Sari di Sawahan, Watulimo, Trenggalek, tentang bagaimana warga mengubah sungai yang dulu kotor menjadi destinasi ramah lingkungan, menjaga hutan durian warisan leluhur, hingga menjamu wisatawan bak keluarga sendiri. Dari kesadaran merawat alam, lahirlah peluang ekonomi yang menghidupi masyarakat desa.

Tempias air yang jatuh dari gerojokan Sungai Watu Lawang tampak berkilau saat bersinggungan dengan cahaya mentari. Pagi itu airnya tidak terlalu jernih karena hujan turun semalaman, namun tetap memberi kesan bersih. Aliran sang bayu bergolak menciptakan buih putih ketika jatuh dari bebatuan. Gemericik air laksana alunan musik, bersambung dengan kicauan burung kutilang, mencipta melodi alam yang saling bertaut dan menambah kesyahduan pagi itu.

Aku duduk di gazebo, menikmati suasana Wisata Watu Lawang. Sejak tiba, pandangan mata ini tak bisa lepas dari aliran sungai, pun telinga serta ketiga indra lainnya, membawa ingatan pada masa kecil, ketika semesta masih menjadi teman sekaligus wahana belajar. Dahulu saya senang sekali mandi di sungai.
Ikan wader (Barbodes binotatus) dan ikan uceng (Nemacheilus) beramai-ramai mondar-mandir, gerakannya simultan, terkadang melawan arus, terkadang mengikutinya. Di sisi lain, udang-udang kecil (Caridina cantonensis) betah berdiam di dasar sungai, hanya sungutnya yang bergerak-gerak, seakan mengamati kondisi sekitar. Anggang-anggang (Gerridae) tampak lihai berjalan di atas air, seakan memiliki ninjutsu ala ninja dalam serial animasi Naruto.

Para penghuni sungai Watu Lawang tersebut merupakan hewan air yang hanya bisa hidup di lingkungan bersih, menjadi bukti bahwa sungai yang terletak di Desa Wisata Duren Sari ini terjaga habitatnya. Data hasil riset yang dirilis oleh Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) menunjukkan bahwa Sungai Watu lawang masih alami.
Namun menurut cerita pengelola, kondisi itu jauh berbeda dibandingkan sepuluh tahun silam, sekitar tahun 2015, sebelum tempat ini disulap menjadi tujuan wisata masyarakat umum. Kala itu, Watu Lawang justru menjadi tempat pembuangan sampah dan dikenal sebagai lokasi angker.
Wisata Watu Lawang di Desa Wisata Duren Sari (Desa Sawahan)
Satu jam sebelumnya, setelah tiba di lokasi, aku menghubungi Unik Winarsih, Ketua Pokdarwis Duren Sari. Berdasarkan informasi seorang kawan, jika ingin mengetahui seluk-beluk wisata ini, Unik adalah sosok yang paling tahu.
Ia datang memakai kerudung merah tua dengan pin bundar bertuliskan “Duren Sari”. Masih dengan seragam batik, mungkin baru saja pulang dari sekolah tempatnya mengajar. Selain aktif mengurus Pokdarwis, ia juga guru di MI Sawahan II. Dari caranya menjelaskan kisah-kisah silam Desa Wisata Duren Sari, aku yakin ia memang seorang pendidik.
“Dahulu sungai ini jadi tempat pembuangan sampah dan terkenal angker. Kalau sudah surup (sore menjelang malam), jarang ada orang berani lewat sini,” terangnya sambil menunjuk ke arah sungai (31/08/25).

Unik mengingat, selama bertahun-tahun Sungai Watu Lawang menjadi lokasi pembuangan sampah. Warga saat itu belum memahami bahaya membuang sampah di sungai—belum ada edukasi masif. Tak ayal, ketika musim hujan tiba, tumpukan sampah terbawa arus sehingga menghambat aliran, membuat sungai tampak keruh dan kumuh. Unik mengekspresikan kenangannya dengan mimik jijik.
Sebutan Watu Lawang sebenarnya merujuk pada keberadaan dua batu besar di aliran sungai. Bagi warga desa, bentuknya menyerupai pintu. Tempat inilah yang kemudian disulap warga menjadi wisata arung jeram sederhana, terutama saat musim kemarau ketika debit air kecil. Berbeda dengan musim hujan seperti saat ini, debit air melimpah.

Mula-mula warga mengumpulkan batu lalu menatanya membentuk dam. Tumpukan batu ini menghalangi aliran air hingga membentuk kolam. Setelah dirasa cukup, air dilepaskan bersamaan sehingga menciptakan arus deras yang membawa perahu karet. Orang-orang di atas perahu cukup mengendalikan agar tidak salah jalur. Inilah yang membuat wisatawan senang bermain di Sungai Watu Lawang. Mereka bisa merasakan sensasi bermain di air, atau dalam istilah orang Trenggalek disebut “koceh”.
Namun sebenarnya, keunikan Desa Wisata Duren Sari tidak hanya terletak di Watu Lawang. Tempat ini, oleh Unik, disebut hanya sebagai rest area. Duren Sari justru memiliki banyak hal lain yang membuat wisatawan betah di desa.
“Orang-orang kota betah tinggal di sini. Kami menjamu mereka ibarat keluarga jauh yang datang bertandang. Mereka begitu menikmati suasananya,” ucapnya.
Awal Mula Terbentuknya Desa Wisata Duren Sari
Tahun 2015 menjadi titik balik bagi Desa Sawahan, Kecamatan Watulimo. Saat itu desa ini belum dikenal sebagai desa wisata, namun ajakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk menggali potensi desa disambut baik oleh pemerintah desa.
“Ada program dari Pemprov namanya Action Plan Desa Wisata. Kami dari Sawahan diajak ke Desa Pentingsari, Yogyakarta, belajar empat hari. Difasilitasi oleh Pak Doto (alm.) dan Mas Panji. Waktu itu idenya, potensi alam dan hasil bumi di Jawa Timur besar, tapi belum optimal. Maka dipilihlah desa-desa potensial untuk dijadikan desa wisata,” kenang Unik.

Unik ditunjuk sebagai Ketua Pokdarwis. Ia mantap menerima karena sebelumnya sudah memiliki pengalaman di program pemberdayaan masyarakat. Waktu itu Bappeda provinsi Jawa Timur mengajak para ahli dari perguruan tinggi dan desa wisata di Yogyakarta untuk mengadakan kegiatan action plan di Kecamatan Watulimo, salah satunya desa Sawahan. Mereka memetakan potensi alam dan pertanian untuk dijadikan paket desa wisata. Lalu dipilihlah nama Desa Wisata Duren Sari, karena banyaknya pohon durian di Sawahan. Bisa dikatakan, upaya menerima wisatawan saat itu adalah langkah nekat.
“Kami nekat menerima tamu. Pertama kali langsung dua bus. Kaget orang-orang di Watulawang, kok tiba-tiba ada tamu banyak dari Surabaya waktu itu,” kenangnya, tersenyum.
Duren Sari kala itu belum memiliki fasilitas wisata memadai selain alam itu sendiri. Namun upaya ratusan tahun petani merawat alam dan tanaman ternyata menjelma jadi daya pikat bagi orang-orang kota. Menurut Unik, para tamu menikmati suguhan alami warga: memetik durian langsung dari pohon, memanen nira, hingga ikut merasakan panen petani.
“Kami dirikan tenda terop di belakang rumah. Kami ajak mereka makan bersama menikmati makanan khas dibungkus daun jati. Kami ajak memanen pisang. Belakang rumah saya sampai seperti hajatan, tendanya pun bukan yang bagus,” ungkap Unik.
Menurutnya, para tamu merasa seolah berkunjung ke rumah saudara sendiri. Sambutan warga yang penuh ketulusan membuat mereka betah tinggal di desa. Dari situlah warga merasakan imbas nyata desa wisata, terutama saat pertama kali menerima tamu pada musim panen, apalagi ketika harga panen sedang tidak bagus.
Semakin Banyak Tempat Wisata dan Prestasi

Sesuai buku Membangun Desa Wisata terbitan Kemenko Marves RI (Edisi II, Juni 2021), ada tiga jenis produk unggulan dalam konsep desa wisata: berbasis alam, budaya, dan kreatif. Wisatawan diajak untuk melihat (See), merasakan (Feel), dan menjelajah (Explore). Desa Wisata Duren Sari tampaknya mampu menerjemahkan teori tersebut ke dalam praktik nyata.
Tahun 2016, Menteri Pertanian menetapkan kawasan ini sebagai International Durio Forestry (IDF), hutan durian terbesar se-Asia Tenggara. Penetapan itu didasarkan pada fakta bahwa hutan durian di Sawahan membentang seluas 650 hektare, dengan pohon-pohon berusia ratusan tahun.

Setahun kemudian, 2017, lahirlah wisata Watu Lawang dengan suguhan river tubing. Pengunjung diajak merasakan serunya bermain air di sungai. Berbagai fasilitas penunjang pun mulai dibangun, sebagian besar dengan swadaya masyarakat dan didukung oleh pemerintah desa, kecamatan dan kabupaten. Perlahan, Watu Lawang makin ramai dikunjungi.
“Tahun 2019 kami mulai banyak dikenal, wisatawan semakin ramai. Tahun 2021 ikut Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dan masuk nominasi. Puncaknya tahun 2023, Duren Sari masuk 75 besar ADWI nasional, bahkan dapat juara 3 kelembagaan CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environment). Itu membanggakan sekali,” tutur Unik.
Tiap Dusun, Tiap Keunikan
Unik menjelaskan, Desa Sawahan terdiri dari empat dusun yang masing-masing memiliki daya tarik sendiri. Dusun Krajan dikenal dengan hamparan persawahannya; saat pagi hari, pengunjung bisa menikmati keindahan sunrise di balik perbukitan. Dusun Singgahan menjadi pusat aktivitas homestay, UMKM, sanggar budaya, hingga cooking class. Di dusun ini pula warga mengembangkan peternakan burung murai dan wahana outbound. Dusun Tenggong menyimpan hutan durian dan aliran Kali Bawok yang jernih, juga peternakan kambing etawa serta kerajinan reyeng. Sementara itu, Dusun Ngrancah menawarkan pengalaman konservasi Telaga Biru, kebun pakis, serta pengolahan gula aren tradisional.
Keunikan tiap dusun inilah yang kemudian dirangkai menjadi paket wisata terpadu. Wisatawan tidak hanya berhenti di satu titik, melainkan berkeliling desa sambil merasakan kekhasan dari tiap dusun.
Deretan Prestasi Desa Wisata Duren Sari

Secara rinci, berikut capaian yang berhasil diraih Desa Wisata Duren Sari:
- Desa Wisata Terbaik Jawa Timur dengan konsep CBT (Community Based Tourism), 2019
- Homestay Terbaik 3 Tingkat Provinsi, 2019
- Penyaji Terbaik Tingkat Kabupaten Trenggalek, 2019
Salah satu destinasi terbaik Pariwisata New Normal tingkat nasional, 2020 - 500 Besar Desa Wisata ADWI, 2022
- Desa Wisata Cerdas Mandiri dan Sejahtera Tingkat Provinsi, 2022
- Juara I Makanan Terbaik 100 Desa Wisata Kabupaten Trenggalek, 2022
- Pengemasan Makanan Terbaik Tingkat Kabupaten, 2022
- Juara Anugerah Seratus Desa Wisata (SADEWA) Kabupaten Trenggalek kategori Produk Wisata Terbaik, 2022
- 75 Besar ADWI Nasional, 2023
- Juara 3 Kelembagaan & CHSE ADWI, 2023
- Juara 3 Kategori Kewirausahaan Festival KBA/DSA, 2024
- 5 Besar LC KBA/DSA, 2024
- Penghargaan Wonderful Indonesia Impact, 2024
- 8 Besar Festival KBA/DSA kategori Kewirausahaan, 2025
Pendampingan dari Astra

Selain dukungan pemerintah daerah, Desa Wisata Duren Sari mendapat pendampingan dari Astra melalui program Desa Binaan Astra. Bantuan yang diberikan tidak hanya berupa infrastruktur, melainkan juga penguatan kelembagaan, promosi, hingga pelatihan digital marketing.
Warga dilatih memanfaatkan internet untuk promosi, mengelola media sosial, serta membangun citra digital desa. Pendampingan ini membuat warga lebih percaya diri menghadapi wisatawan dari berbagai daerah. Mereka belajar mengemas potensi desa—mulai dari paket wisata, homestay, hingga oleh-oleh khas—agar lebih mudah menjangkau pasar yang lebih luas.
Menurut Unik, dukungan Astra juga membantu dalam penataan manajemen. Layanan wisata kini dikelola lebih profesional, sehingga tamu merasa nyaman sekaligus percaya pada kualitas Desa Wisata Duren Sari.
Masyarakat Belajar Menjaga Alam

Perubahan paling nyata yang dirasakan warga Sawahan setelah terbentuknya desa wisata adalah cara pandang mereka terhadap lingkungan. Dahulu, sungai kerap dijadikan tempat membuang sampah, bahkan dianggap angker. Namun setelah ada edukasi melalui forum-forum desa dan dorongan dari Pokdarwis, masyarakat mulai sadar bahwa sungai dan alam sekitar adalah aset penting yang harus dijaga.
Kesadaran itu makin kuat ketika warga merasakan sendiri manfaatnya. Sungai yang bersih menghadirkan ikan-ikan kecil dan udang sebagai indikator kualitas air. Lingkungan yang terawat membuat wisatawan betah berlama-lama, bahkan kembali dengan membawa keluarga. Dampaknya, ekonomi warga ikut bergerak: homestay terisi, hasil bumi lebih mudah dipasarkan, desa pun makin ramai dikunjungi.
Unik menegaskan, perubahan perilaku itu bukan lahir dari paksaan, melainkan dari pengalaman langsung. Warga sadar bahwa menjaga sungai tetap bersih dan hutan tetap hijau berarti menjaga masa depan desa. Dari situlah tumbuh rasa memiliki dan kebanggaan bersama.
“Alam bukan sekadar warisan, melainkan penopang kehidupan sehari-hari.” Pungkasnya dengan senyuman
#kabarbaiksatuindonesia





