Membaca Peta Penipuan Digital di Indonesia

Data dari Indonesia Anti Scam Centre (IASC) periode November 2024 hingga 23 Desember 2025 mencatat sepuluh modus penipuan utama, tercatat 237.683 laporan pengaduan dengan total kerugian masyarakat sekitar Rp7,10 triliun.

Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam cara masyarakat bertransaksi. Aktivitas ekonomi semakin cepat, praktis, dan lintas batas. Namun di balik kemudahan tersebut, ruang digital juga membuka peluang baru bagi munculnya kejahatan keuangan.

Fenomena inilah yang tergambar dalam paparan data yang disampaikan Ketua Sekretariat Satgas PASTI Otoritas Jasa Keuangan, Hudianto, dalam forum Kajian dan Obrolan Seputar Keuangan Syariah (KOLAK) bertema “Jawa Timur Tangguh Digital 2026: Ramadan Aman dan Nyaman, Waspada Penipuan Keuangan Jelang Lebaran.”

Saya mengikuti Zoom forum yang diselenggarakan OJK Provinsi Jawa Timur bersama Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Timur pada 5 Maret 2026, kegiatan ini tidak sekadar mengingatkan masyarakat tentang risiko penipuan. Di dalamnya tersaji sebuah potret statistik yang cukup jelas tentang bagaimana kejahatan finansial digital bekerja, bagaimana ia berkembang, dan bagaimana pola kerugiannya tersebar.

Data yang dipaparkan bersumber dari Indonesia Anti Scam Centre (IASC) dengan periode pencatatan dari November 2024 hingga 23 Desember 2025.

Dalam pemetaan sepuluh modus penipuan utama, tercatat 237.683 laporan pengaduan dengan total kerugian masyarakat sekitar Rp7,10 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa penipuan digital tidak lagi muncul sebagai kasus sporadis, melainkan telah berkembang menjadi pola kejahatan yang sistematis di dalam ekosistem ekonomi digital.

Berikut tabel Top 10 Modus Penipuan berdasarkan data yang ditampilkan pada slide Satgas PASTI.

Jenis PenipuanJumlah LaporanTotal Kerugian
Penipuan Transaksi Belanja (Jual-Beli Online)74.063Rp1,34 triliun
Penipuan Mengaku Pihak Lain (Fake Call)44.749Rp1,69 triliun
Penipuan Investasi26.327Rp1,52 triliun
Penipuan Penawaran Kerja23.464Rp751,40 miliar
Penipuan Melalui Media Sosial19.987Rp635,63 miliar
Penipuan Mendapatkan Hadiah18.961Rp247,79 miliar
Phishing16.577Rp662,65 miliar
APK via WhatsApp5.869Rp47,91 miliar
Social Engineering4.122Rp150,70 miliar
Pinjaman Online Fiktif3.564Rp50,14 miliar
Total237.683± Rp7,10 triliun
Total laporan dan kerugian merupakan hasil penjumlahan dari sepuluh modus penipuan yang ditampilkan dalam slide presentasi.

Modus yang Paling Banyak Dilaporkan

Jika membaca data tersebut secara lebih rinci, terlihat bahwa penipuan digital memiliki pola yang cukup konsisten. Modus yang paling dominan adalah penipuan transaksi belanja online (jual beli online).

Jumlah laporan pada kategori ini mencapai 74.063 kasus, dengan kerugian sekitar Rp1,34 triliun. Dari sisi statistik, angka ini menunjukkan dua hal sekaligus. Pertama, aktivitas belanja online merupakan ruang interaksi ekonomi digital yang sangat besar. Kedua, ruang tersebut juga menjadi titik paling rentan bagi penipuan.

Penipuan jenis ini biasanya terjadi ketika pelaku memanfaatkan kepercayaan konsumen dalam transaksi daring. Barang ditawarkan dengan harga menarik, sering kali jauh di bawah harga pasar. Ketika pembayaran sudah dilakukan, barang yang dijanjikan tidak pernah dikirim. Dalam banyak kasus, identitas penjual juga sulit dilacak.

Di bawahnya, terdapat modus penipuan yang mengaku sebagai pihak lain atau fake call. Jumlah laporan mencapai 44.749 kasus, tetapi nilai kerugiannya justru lebih besar, yakni sekitar Rp1,69 triliun. Artinya, meskipun jumlah kasusnya lebih sedikit dibanding penipuan belanja online, dampak finansialnya jauh lebih besar.

Data ini menunjukkan bahwa penipuan yang memanfaatkan identitas palsu sering kali melibatkan nominal uang yang lebih tinggi. Dalam banyak kasus, korban diminta mentransfer dana atau memberikan akses informasi keuangan karena percaya bahwa pelaku adalah pihak resmi.

Penipuan Investasi dan Janji Keuntungan

d0b57091 c932 4dd5 a461 1889a849cd1e
10 modus penipuan digital terbanyak Indonesia beserta total kerugian. Tangkapan layar zoom satgas pasti/trigus

Kategori berikutnya adalah penipuan investasi. Tercatat 26.327 laporan dengan total kerugian sekitar Rp1,52 triliun. Jika dihitung rata-rata, setiap korban kehilangan sekitar Rp43,8 juta.

Nilai kerugian rata-rata ini termasuk yang tertinggi dibandingkan modus lainnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa penipuan investasi biasanya menyasar korban yang bersedia menanamkan dana dalam jumlah besar dengan harapan memperoleh keuntungan tinggi.

Modus ini sering kali memanfaatkan janji imbal hasil yang tidak realistis. Tawaran investasi dipresentasikan dengan tampilan profesional, lengkap dengan grafik keuntungan, testimoni palsu, hingga tampilan aplikasi yang tampak meyakinkan. Dalam praktiknya, uang yang masuk tidak pernah benar-benar diinvestasikan.

Selain investasi, penipuan penawaran kerja juga menjadi salah satu modus yang cukup sering muncul. Tercatat 23.464 laporan dengan total kerugian sekitar Rp751 miliar. Modus ini biasanya menyasar masyarakat yang sedang mencari pekerjaan, terutama melalui platform digital.

Pelaku menawarkan pekerjaan dengan proses rekrutmen cepat dan tanpa syarat rumit. Namun sebelum mulai bekerja, korban diminta membayar biaya administrasi atau membeli paket tertentu yang ternyata tidak pernah berujung pada pekerjaan nyata.

Peran Media Sosial dalam Penipuan

Data juga menunjukkan bahwa media sosial menjadi salah satu medium penting dalam penyebaran penipuan. Tercatat 19.987 laporan penipuan melalui media sosial dengan kerugian sekitar Rp635 miliar.

Media sosial memiliki dua karakter utama yang membuatnya rentan dimanfaatkan pelaku penipuan. Pertama, tingkat interaksi yang sangat tinggi. Kedua, identitas pengguna yang sering kali tidak diverifikasi secara ketat.

Di ruang seperti ini, pelaku dapat dengan mudah membuat akun palsu, meniru identitas orang lain, atau membangun persona tertentu untuk mendapatkan kepercayaan korban.

Selain itu terdapat juga modus penipuan hadiah, dengan 18.961 laporan dan kerugian sekitar Rp247 miliar. Modus ini biasanya memanfaatkan psikologi dasar manusia: ketertarikan terhadap hadiah atau keuntungan yang datang secara tiba-tiba.

Teknik Penipuan yang Lebih Teknis

Selain modus yang berbasis interaksi sosial, terdapat pula beberapa teknik yang lebih teknis. Salah satunya adalah phishing, dengan 16.577 laporan dan kerugian sekitar Rp662 miliar.

Phishing biasanya dilakukan dengan cara mengirim tautan palsu yang menyerupai situs resmi. Ketika korban memasukkan data pribadi atau informasi perbankan, data tersebut langsung jatuh ke tangan pelaku.

Ada juga penggunaan APK berbahaya yang dikirim melalui WhatsApp, dengan 5.869 laporan dan kerugian sekitar Rp47,9 miliar. Teknik ini memanfaatkan aplikasi yang terlihat seperti dokumen atau undangan, tetapi sebenarnya berisi perangkat lunak berbahaya yang dapat mengakses data ponsel korban.

Kategori lain yang muncul dalam data adalah social engineering, dengan 4.122 laporan dan kerugian sekitar Rp150 miliar. Berbeda dengan phishing yang bersifat teknis, social engineering lebih mengandalkan manipulasi psikologis.

Pelaku mencoba membangun situasi tertentu yang membuat korban bertindak tanpa berpikir panjang. Misalnya dengan menciptakan rasa panik, urgensi, atau rasa percaya yang berlebihan.

Membaca Pola di Balik Angka

Jika semua angka tersebut dibaca secara menyeluruh, muncul satu kesimpulan penting: kejahatan finansial digital berkembang mengikuti pola aktivitas masyarakat di ruang digital.

Semakin tinggi aktivitas transaksi online, semakin besar peluang munculnya penipuan yang memanfaatkan transaksi tersebut. Demikian pula dengan meningkatnya penggunaan media sosial, aplikasi pesan, dan layanan digital lainnya.

Kejahatan digital tidak berkembang secara acak. Ia tumbuh mengikuti pola interaksi manusia di internet.

Dalam konteks ini, data yang dipaparkan Satgas PASTI bukan sekadar statistik. Ia adalah peta tentang bagaimana ruang digital bekerja, bagaimana kepercayaan dibangun, dan bagaimana kepercayaan itu dapat dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Memahami pola tersebut menjadi langkah penting untuk memperkuat literasi digital masyarakat. Sebab dalam banyak kasus, penipuan tidak terjadi karena teknologi yang terlalu canggih, tetapi karena manusia yang terlalu percaya mendapatkan keuntungan dengan mudah, disertai kurangnya pengetahuan.

Bagikan
mastrigus
mastrigus

Trigus Dodik Susilo adalah penulis dan webmaster asal Trenggalek yang aktif membangun dan mengelola media digital berbasis komunitas. Ia dikenal sebagai pendiri KabarTrenggalek.com dan Nggalek.co. Karyanya berfokus pada penguatan informasi akar rumput melalui teknologi.

Articles: 985