Kutukan Idealisme di Antara Dasein dan Das Sollen

Ada masa ketika saya merasa dunia seharusnya bisa berjalan dengan cara yang jauh lebih sederhana daripada yang saya lihat setiap hari. Bukan dunia yang sempurna seperti dalam cerita utopis, tetapi dunia yang setidaknya memiliki batas-batas kewajaran: orang tidak merugikan orang lain demi keinginan, kekuasaan tidak dipakai untuk menindas, dan kejujuran tidak dianggap sebagai kebodohan.

Seiring waktu, keyakinan seperti itu sering diberi satu label: idealisme. Kata yang sering terdengar seperti sindiran. Seolah-olah idealisme adalah kegagalan memahami kenyataan.

Namun semakin saya membaca dan merenung, saya menyadari bahwa dilema ini bukan hanya milik saya. Beberapa waktu lalu saya menemukan sebuah tulisan lama dari Dave Pollard berjudul The Curse of Idealism yang ditulis Tahun 2009 silam, jeda waktu cukup lama untuk bisa saya ditemukan. Dalam tulisannya, Pollard menggambarkan bagaimana sejak kecil ia telah hidup dengan imajinasi tentang dunia yang lebih baik.

Ia menulis:

“I have always been an idealist. Even as a young child I imagined worlds that were, in every way, perfect and simple.”

Kalimat itu terasa sangat akrab. Bukan karena saya pernah membayangkan dunia yang sempurna dalam arti yang utopis, tetapi karena saya mengenali dorongan yang sama: keinginan bahwa dunia setidaknya bisa berjalan dengan lebih jujur, lebih adil, atau lebih masuk akal daripada yang sering kita lihat.

Pollard kemudian menjelaskan masalah utama dari idealisme. Kata “ideal” sendiri, menurutnya, pada awalnya hanya berarti sesuatu yang dibayangkan. Sesuatu yang mungkin tidak pernah ada dalam kenyataan. Dari sinilah muncul jarak antara dunia yang kita bayangkan dan dunia yang benar-benar kita hadapi.

Ia bahkan mengutip peringatan terkenal dari Voltaire:

“The perfect is the enemy of the good.”

Ketika seseorang terlalu terpaku pada kesempurnaan, kenyataan yang tidak sempurna sering terasa tidak pernah cukup baik.

Dalam banyak kasus, menurut Pollard, idealisme yang terlalu kaku bahkan dapat berubah menjadi ideologi. Ketika seseorang yakin bahwa visinya tentang dunia yang ideal adalah satu-satunya kebenaran, ia bisa merasa berhak memaksakannya kepada orang lain. Dalam sejarah, dorongan seperti itu sering berakhir pada konflik, penindasan, bahkan kekerasan.

Namun Pollard juga menyadari bahwa idealisme tidak sepenuhnya buruk. Dunia, katanya, justru sering kekurangan imajinasi.

Banyak orang menerima begitu saja dunia yang penuh kekerasan, korupsi, dan ketidakadilan karena mereka tidak mampu membayangkan kemungkinan lain. Dalam pengertian itu, idealisme justru menjadi sumber kreativitas: ia memungkinkan manusia membayangkan cara hidup yang lebih baik.

Masalahnya muncul ketika bayangan itu dipaksakan menjadi kenyataan.

Di bagian akhir tulisannya, Pollard menyebut bahwa bagi para idealis yang mulai merasa kecewa dengan dunia nyata, setidaknya ada dua jalan yang bisa ditempuh.

Ia menulis:

“For disenchanted idealists, there are two ways forward.”

Jalan pertama adalah hidup di dua dunia sekaligus.

“The first, and most tempting, is to live with one foot in each world… One foot in the real world… the other foot in our own ideal, imagined, impossible world of fantastic perfection.”

Dalam cara ini, seseorang tetap hidup di dunia nyata, tetapi juga mempertahankan dunia imajinasi sebagai tempat berlindung. Ketika kenyataan terasa terlalu keras, dunia imajinasi menjadi ruang untuk bernafas, berpikir, dan mencipta.

Sebagai seorang penulis, Pollard sendiri mengakui bahwa ia sering menemukan perlindungan di ruang itu—dalam cerita, seni, dan tulisan.

Namun ada juga jalan kedua.

“The other way is to let go of the ideal and live fully in the real world — to let yourself change and accept what is.”

Pilihan ini lebih radikal. Bukan lagi mencoba mempertahankan dunia ideal dalam pikiran, tetapi benar-benar melepaskannya. Menerima dunia sebagaimana adanya, tanpa tuntutan bahwa ia harus menjadi sesuatu yang lain.

Membaca dua pilihan yang diajukan Pollard membuat saya teringat pada satu ketegangan lama dalam filsafat: perbedaan antara apa yang ada dan apa yang seharusnya ada.

Dalam tradisi pemikiran Jerman, ketegangan ini sering digambarkan dengan dua istilah: Dasein dan das Sollen. Dasein, istilah yang dipakai Martin Heidegger, merujuk pada keberadaan manusia yang benar-benar hidup di dunia—dunia yang tidak sempurna, penuh konflik, dan sering jauh dari harapan kita. Sementara das Sollen, yang banyak muncul dalam etika Kantian, menunjuk pada wilayah norma: dunia tentang bagaimana sesuatu seharusnya berjalan.

Di antara dua wilayah inilah idealisme sering terjebak. Ia lahir dari kesadaran tentang das Sollen—tentang nilai, prinsip, dan kemungkinan dunia yang lebih baik—tetapi harus hidup di dalam Dasein, dunia nyata yang jarang sekali mengikuti prinsip-prinsip tersebut.

Pollard kemudian mengutip tulisan Evelyn, yang mengatakan bahwa setelah idealismenya runtuh, justru muncul sesuatu yang lain: kepolosan—alih-alih menuju realisme. Cara melihat dunia tanpa lapisan konsep tentang bagaimana dunia seharusnya berjalan.

Membaca bagian ini membuat saya berhenti cukup lama.

Karena dilema itu terasa sangat nyata.

Ada bagian dari diri saya yang masih percaya bahwa prinsip-prinsip sederhana—kejujuran, tanggung jawab, tidak merugikan orang lain—adalah sesuatu yang layak dipertahankan. Bukan karena dunia harus sempurna, tetapi karena tanpa prinsip-prinsip itu dunia akan menjadi jauh lebih buruk.

Namun ada juga bagian dari diri saya yang menyadari bahwa dunia tidak selalu berjalan menurut prinsip-prinsip tersebut. Dan ketika seseorang terlalu keras mempertahankannya, ia sering merasa terasing dari lingkungannya sendiri.

Di titik inilah idealisme sering berubah menjadi kesepian— karena tidak turut larut dalam hingar bingar yang digemari banyak orang, berupa keuntungan mungkin.

Mungkin itulah yang sebenarnya dimaksud Pollard ketika ia menyebut idealisme sebagai semacam kutukan. Bukan karena ia salah, tetapi karena ia membuat seseorang terus-menerus melihat jarak antara dunia yang ada dan dunia yang mungkin seharusnya ada.

Saya sendiri belum tahu jalan mana yang seharusnya dipilih.

Apakah hidup dengan satu kaki di dunia nyata dan satu kaki di dunia yang dibayangkan.

Atau benar-benar melepaskan bayangan itu, dan menerima dunia sebagaimana adanya.

Namun setidaknya ada satu hal yang saya pelajari dari membaca tulisan Pollard: idealisme tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk perubahan besar. Kadang ia cukup hadir sebagai kompas pribadi—pengingat sederhana tentang batas yang tidak ingin kita langgar.

Mungkin dunia memang tidak akan pernah menjadi sempurna.

Tetapi selama masih ada orang yang berusaha tidak ikut menambah kerusakan yang sudah ada, mungkin idealisme masih memiliki tempatnya sendiri.

Bukan sebagai utopia. Tetapi sebagai cara untuk tetap menjadi manusia—yang seharusnya memiliki batas.

Bagikan
mastrigus
mastrigus

Trigus Dodik Susilo adalah penulis dan webmaster asal Trenggalek yang aktif membangun dan mengelola media digital berbasis komunitas. Ia dikenal sebagai pendiri KabarTrenggalek.com dan Nggalek.co. Karyanya berfokus pada penguatan informasi akar rumput melalui teknologi.

Articles: 986